Malaria merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium. Gejala Malaria umumnya tidak langsung muncul setelah seseorang terkena gigitan nyamuk, sehingga tanda-tandanya bisa baru terasa beberapa waktu kemudian.
Karena itu, penting untuk mengenali kapan gejala biasanya mulai muncul, apa saja tanda yang perlu diwaspadai, serta langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan.
Simak informasi selengkapnya dalam artikel ini.
WHO menyebutkan bahwa gejala malaria umumnya mulai muncul sekitar 7–30 hari setelah digigit nyamuk Anopheles yang terinfeksi. Pada orang yang belum memiliki kekebalan terhadap malaria, gejala biasanya muncul sekitar 10–15 hari setelah gigitan.
Namun, masa inkubasi dapat berbeda tergantung jenis parasit yang menginfeksi. Beberapa jenis malaria bahkan baru tampak gejalanya setelah beberapa bulan setelah infeksi.
Berbeda dengan gejala DBD yang umumnya akan muncul beberapa hari setelah terinfeksi virus dengue.
Selain itu, malaria dan DBD disebabkan oleh agen infeksi yang berbeda. Malaria terjadi akibat infeksi parasit Plasmodium, sedangkan DBD disebabkan oleh virus dengue.
Karena gejala awal malaria dapat menyerupai penyakit demam lainnya, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Dokter juga akan mempertimbangkan kapan gejala mulai muncul serta riwayat perjalanan atau tempat tinggal, terutama jika seseorang pernah berada di daerah dengan risiko malaria.
Gejala malaria pada tahap awal mungkin terlihat seperti demam biasa. Karena itu, perhatikan gejala lain yang menyertai juga perubahan kondisi tubuh.
Demam merupakan salah satu gejala malaria yang paling umum. Suhu tubuh dapat meningkat dan pada sebagian orang disertai pola demam yang berulang.
Namun, demam saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terkena malaria karena banyak penyakit lain juga dapat menyebabkan demam. Dibutuhkan pemeriksaan medis untuk memastikan penyebabnya.
Demam pada malaria biasanya disertai menggigil, kemudian diikuti tubuh yang berkeringat ketika suhu mulai turun. Siklus ini dapat berulang tergantung jenis parasit yang menyebabkan infeksi.
Jika demam, menggigil, dan berkeringat muncul berulang, terutama setelah bepergian atau tinggal di daerah endemis malaria, sebaiknya segera periksakan diri.
Malaria juga dapat menyebabkan sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh terasa pegal. Keluhan ini sering muncul bersama demam dan menggigil sehingga pada awalnya dapat terasa seperti flu atau infeksi lainnya.
Karena gejalanya cukup umum, informasi tentang riwayat perjalanan ke daerah endemis dapat membantu dokter mempertimbangkan kemungkinan malaria.
Mual dan muntah dapat menyertai infeksi malaria, meskipun tidak selalu dialami setiap orang. Keluhan pencernaan lainnya seperti diare juga dapat terjadi.
Jika keluhan ini muncul bersama demam dan menggigil, terutama setelah berada di daerah endemis, jangan menganggapnya hanya sebagai gangguan pencernaan biasa.
Infeksi malaria dapat membuat tubuh terasa lemah dan sangat lelah. Pada kondisi yang lebih berat, kelelahan dapat menjadi semakin parah dan disertai gangguan kesadaran atau gejala serius lainnya.
Baca Juga: Ini Komplikasi Malaria yang Perlu Diwaspadai, Wajib Tahu!
Malaria terjadi ketika parasit Plasmodium masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Risiko penularannya sangat berkaitan dengan keberadaan nyamuk pembawa parasit dan wilayah tempat penularan malaria berlangsung.
Dari laman CDC, dijelaskan bahwa malaria disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium. Beberapa jenis Plasmodium yang paling sering menginfeksi manusia adalah dengan P. falciparum dan P. vivax.
Setelah masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, parasit berkembang dan kemudian menginfeksi sel darah merah. Proses inilah yang kemudian menimbulkan berbagai gejala malaria.
Tidak semua nyamuk Anopheles membawa malaria, tetapi nyamuk yang telah terinfeksi Plasmodium dapat menularkan parasit saat menggigit orang lain dan seringnya malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Nyamuk Anopheles umumnya aktif menggigit dari senja hingga fajar. Karena itu, perlindungan terhadap gigitan perlu lebih diperhatikan pada malam hari.
Risiko malaria menjadi lebih tinggi jika kamu tinggal di wilayah tempat penularan malaria berlangsung.
Di Indonesia, sejumlah wilayah di Indonesia dengan risiko malaria yang cukup tinggi antara lain di Indonesia bagian timur serta beberapa wilayah pedesaan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Segera periksakan diri jika mengalami demam atau gejala mirip flu setelah tinggal atau bepergian ke daerah yang memiliki risiko malaria. Malaria perlu ditangani secepatnya karena beberapa jenis malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat jika tidak ditangani.
Jangan lupa sampaikan kepada dokter jika sebelumnya kamu berada di daerah endemis malaria, bahkan jika perjalanan tersebut sudah berlangsung beberapa waktu yang lalu.
Riwayat perjalanan dapat menjadi petunjuk penting karena gejala malaria pada jenis tertentu dapat muncul lebih lama setelah paparan.
Baca Juga: Pola Demam Malaria, Ini Komplikasi dan Pengobatannya
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah malaria dan mengurangi risiko gigitan nyamuk, terutama saat berada di wilayah dengan risiko penularan.
Karena malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk, menghindari gigitannya menjadi salah satu langkah pencegahan utama.
Caranya, gunakan pakaian yang menutupi kulit, terutama pada malam hari, serta pilih tempat tidur yang memiliki kelambu atau ruangan dengan kasa pada jendela dan pintu.
Gunakan repellent pada bagian kulit yang terbuka sesuai petunjuk pada kemasan. Salah satu pilihan yang selalu bisa kamu andalkan adalah Soffell, lotion antinyamuk yang memberi perlindungan tambahan dari gigitan nyamuk. Terutama ketika beraktivitas di area dengan banyak nyamuk.
Menjaga lingkungan tetap bersih dapat membantu mengurangi tempat nyamuk berkembang biak. Singkirkan wadah yang dapat menampung air, bersihkan area yang berpotensi menjadi tempat genangan, dan pastikan saluran air tidak tersumbat.
Jika berencana bepergian ke daerah endemis malaria, cari tahu tingkat risiko di destinasi sebelum berangkat. Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan obat pencegahan malaria yang perlu dikonsumsi sebelum, selama, dan setelah perjalanan sesuai jenis obatnya.
Baca Juga: Mengenal Parasit Plasmodium Malariae Penyebab Malaria
Selain menjaga lingkungan dan menggunakan perlindungan fisik, lengkapi perlindungan sehari-hari dengan repellent yang praktis dan nyaman digunakan.
Soffell hadir dalam bentuk lotion dan spray yang mudah digunakan kapan pun kamu membutuhkannya, baik saat beraktivitas di luar maupun bersantai di rumah.
Dengan formula dual action, Soffell membantu melindungi tubuh dari gigitan nyamuk melalui aroma dan rasa yang tidak disukai nyamuk. Pilihan variannya juga beragam, mulai dari Soffell Alamia Blossom dalam bentuk spray hingga lotion dengan pilihan aroma seperti White Potato dan Orange Peel.
Dengan Soffell, perlindungan dari gigitan nyamuk jadi lebih praktis untuk menemani setiap aktivitas.