Perbedaan Demam Biasa dan DBD
Oktober 9, 2026 Artikel

Demam Biasa atau DBD? Ini Perbedaan yang Perlu Diwaspadai

Demam bisa muncul karena berbagai kondisi, mulai dari infeksi ringan hingga penyakit tertentu. Karena itu, penting untuk memahami perbedaan demam biasa dan DBD, terutama karena gejala awal keduanya bisa terlihat cukup mirip. 

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Meski sama-sama dapat menyebabkan demam, perjalanan gejala dan tanda yang muncul pada DBD bisa berbeda dari demam biasa. 

Dengan mengenali perbedaannya sejak awal, kamu dapat lebih waspada terhadap perubahan kondisi maupun tanda bahaya yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.

Apa Perbedaan Demam Biasa dan DBD?

Mengutip laman Vinmec, pada dasarnya, demam merupakan respons alami ketika tubuh menghadapi infeksi. Baik yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, maupun jamur.

Demam juga dapat dipicu oleh faktor lain, seperti paparan panas berlebih, obat-obatan, atau kondisi medis tertentu. Gejala yang menyertainya pun berbeda-beda, tergantung penyebabnya.

Pada kasus DBD, demam disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Pada tahap awal, gejalanya mirip seperti demam biasa karena sama-sama ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. 

Namun, dengue umumnya disertai gejala lain seperti sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam.

Perbedaan lainnya juga dapat terlihat dari perkembangan penyakit. DBD berlangsung melalui beberapa fase, dan tanda bahaya justru dapat muncul ketika demam mulai mereda. Karena itu, jangan langsung menganggap kondisi membaik hanya karena suhu tubuh kembali turun.

Ciri-Ciri Demam Biasa yang Umum Terjadi

Demam biasa umumnya muncul sebagai respons tubuh terhadap infeksi atau kondisi lain dan dapat disertai keluhan sesuai penyebabnya. Berikut beberapa ciri yang umum menyertai demam biasa:

1. Demam Disertai Batuk atau Pilek

Demam akibat infeksi saluran pernapasan seperti flu atau pilek sering disertai batuk, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan, atau bersin. Kombinasi gejala tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab demam.

2. Kondisi Tubuh Berangsur Membaik

Pada kasus infeksi ringan, kondisi tubuh berangsur membaik seiring sistem kekebalan melawan penyebab penyakit. Nafsu makan dan energi juga biasanya mulai kembali setelah demam mereda.

3. Gejala Cenderung Lebih Ringan

Demam akibat infeksi ringan umumnya disertai keluhan yang relatif ringan, tergantung penyebabnya. Misalnya, tubuh terasa lelah, sakit kepala ringan, batuk, atau pilek.

Baca Juga: Waspada! Kasus DBD Meningkat, Ini Tren Peningkatannya dari Tahun ke Tahun

Gejala DBD yang Perlu Diwaspadai

Berbeda dengan demam biasa, DBD biasanya diikuti dengan gejala yang lebih berat, misalnya berikut ini:

1. Demam Tinggi yang Muncul Mendadak

Mengutip CDC, salah satu gejala utama dengue adalah demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba. Demam pada dengue umumnya berlangsung sekitar 2–7 hari dan dapat disertai berbagai keluhan lain.

Namun, ini bukan satu-satunya indikator untuk memastikan apakah seseorang mengalami DBD. Perhatikan juga gejala lain dan bagaimana kondisi tubuh berkembang dari hari ke hari.

2. Nyeri Kepala dan Nyeri di Belakang Mata

Selain demam, dengue dapat menyebabkan sakit kepala berat dan rasa nyeri di belakang mata. Keluhan ini dapat muncul bersama nyeri otot, sendi, atau tulang sehingga tubuh terasa lebih sakit dan tidak nyaman.

Jika keluhan tersebut muncul bersamaan dengan demam, terutama di wilayah yang memiliki risiko dengue, kondisi sebaiknya tidak dianggap sebagai demam biasa.

3. Mual, Muntah, dan Hilang Nafsu Makan

Mual dan tidak nafsu makan termasuk gejala yang dapat menyertai dengue, terutama jika disertai muntah yang berulang dan nyeri perut.

Muntah yang terus-menerus termasuk salah satu tanda peringatan dengue berat dan membutuhkan pertolongan medis segera.

4. Muncul Bintik atau Ruam Kemerahan

Ruam atau bintik kemerahan pada kulit juga dapat muncul pada dengue. Gejalanya bisa terlihat setelah beberapa hari mengalami demam.

Meski demikian, ruam tidak selalu berarti DBD karena berbagai kondisi lain juga dapat menyebabkan perubahan pada kulit. Karena itu, perhatikan kemunculannya bersama demam dan gejala lain.

5. Tanda Perdarahan

Pada dengue, tanda perdarahan dapat berupa mimisan atau gusi berdarah. Dalam kondisi yang lebih berat, darah juga dapat muncul pada muntahan atau tinja.

Jika tanda perdarahan muncul saat mengalami demam, segera cari pertolongan medis, terutama jika disertai perubahan kondisi lainnya.

Perbedaan Demam Biasa dan DBD yang Perlu Diperhatikan

Untuk membedakan demam biasa dan DBD, perhatikan gejala yang menyertai serta perubahan kondisi tubuh dari hari ke hari. 

1. Gejala yang Menyertai Demam

Pada demam vs DBD, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah gejala yang muncul bersamaan dengan demam. Namun, karena gejala awal dengue dapat menyerupai penyakit lain, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

2. Perkembangan Kondisi dari Hari ke Hari

Pada demam biasa akibat infeksi ringan, kondisi tubuh umumnya berangsur membaik setelah penyebabnya mulai teratasi.

Sementara pada DBD, seseorang bisa melalui fase demam, fase kritis, dan fase pemulihan. Hal yang perlu diingat, fase kritis biasanya dimulai ketika demam mereda dan dapat berlangsung sekitar 24–48 jam. 

3. Adanya Tanda Bahaya

Tanda bahaya menjadi pembeda yang paling penting untuk diperhatikan. Nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan dari hidung atau gusi, darah pada muntahan atau tinja, serta rasa sangat lemas atau gelisah dapat menjadi tanda dengue berat.

Jika tanda-tanda tersebut muncul, jangan hanya mengandalkan pengamatan di rumah. Segera cari pertolongan medis karena dengue berat dapat berkembang dengan cepat.

Baca Juga: Membatasi Penyebaran DBD ( Demam Berdarah) di Dalam Rumah

Kapan Harus Periksa ke Dokter saat Demam?

Tidak semua demam memerlukan pemeriksaan medis, tetapi beberapa kondisi ini perlu menjadi pertimbangan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

1. Demam Tinggi Berlangsung Beberapa Hari

Jika demam tinggi berlangsung selama beberapa hari, terutama tanpa penyebab yang jelas, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Jangan menunggu sampai demam semakin tinggi atau kondisi tubuh memburuk untuk melakukan pemeriksaan.

2. Muncul Gejala yang Mengarah pada DBD

Segera konsultasikan kondisi jika demam disertai gejala yang umum ditemukan pada dengue, seperti sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, atau ruam.  Terlebih jika kamu berada di daerah dengan kasus dengue atau memiliki riwayat perjalanan ke wilayah berisiko.

3. Kondisi Memburuk saat Demam Mulai Turun

Pada dengue, tanda bahaya sering muncul dalam waktu 24–48 jam setelah demam menghilang. Karena itu, tetap perhatikan kondisi tubuh walaupun suhu mulai kembali normal.

4. Segera Cari Pertolongan jika Muncul Tanda Bahaya

Jangan menunda mencari pertolongan jika muncul tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah berulang, mimisan atau gusi berdarah, muntah darah, tinja berdarah, napas cepat, kulit pucat dan dingin, atau tubuh terasa sangat lemas.

Dengue berat merupakan kondisi darurat medis yang dapat memburuk dalam waktu singkat. Semakin cepat mendapatkan pertolongan, semakin cepat pula kondisi dapat ditangani.

Selain mengenali gejala dan tanda bahaya DBD, penting juga untuk melakukan upaya pencegahan. Salah satu langkah praktis yang bisa dilakukan adalah melindungi diri dengan lotion antinyamuk seperti Soffell saat beraktivitas.

Baca Juga: Lakukan Hal Ini agar Penderita DBD Bisa Cepat Sembuh

Gunakan Soffell untuk Membantu Melindungi Diri dari Gigitan Nyamuk

Salah satu cara praktis untuk membantu mengurangi risiko gigitan nyamuk adalah menggunakan penolak nyamuk pada kulit. Soffell tersedia dalam bentuk lotion dan spray, serta dapat memberikan perlindungan dari gigitan nyamuk hingga 8 jam.

1. Gunakan pada Pagi dan Sore Hari

Nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit terutama pada siang hari, dengan periode aktivitas yang lebih tinggi pada pagi dan menjelang sore. Karena itu, gunakan Soffell sebelum memulai aktivitas pada waktu tersebut, terutama jika akan berada di area yang banyak nyamuk.

2. Gunakan saat di Dalam maupun Luar Rumah

Gigitan nyamuk tidak hanya perlu diwaspadai saat berada di luar rumah. Aedes aegypti juga dapat beraktivitas di dalam ruangan, sehingga perlindungan tetap diperlukan saat bersantai di rumah, bekerja, atau melakukan aktivitas lainnya.

3. Lengkapi dengan Pencegahan Nyamuk di Lingkungan

Perlindungan dari gigitan nyamuk akan lebih optimal jika dibarengi dengan menjaga lingkungan. Periksa area sekitar rumah secara rutin dan singkirkan wadah yang dapat menampung air karena dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Dengan menggabungkan perlindungan pada tubuh dan pengendalian lingkungan, kamu dapat membantu mengurangi risiko gigitan nyamuk dalam aktivitas sehari-hari.

Lindungi aktivitasmu dari gigitan nyamuk bersama Soffell, penolak nyamuk dengan perlindungan hingga 8 jam.

Related article