Bakteri E.coli, Ketahui Manfaat dan Bahayanya bagi Tubuh
Reviewed by: dr. Anggi Medita
Reviewed by: dr. Anggi Medita
Escherichia coli atau yang lebih dikenal sebagai bakteri E. coli adalah salah satu jenis bakteri yang hidup di saluran pencernaan manusia dan hewan. Dalam kondisi normal, bakteri ini sebenarnya berperan membantu proses pencernaan.
Namun, beberapa jenis E. coli tertentu dapat bersifat berbahaya dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari diare ringan hingga infeksi saluran pencernaan. Simak penjelasan lebih lanjut mengenai bakteri E. coli di bawah ini.
Escherichia coli (E. coli) adalah kelompok bakteri yang secara alami hidup di usus atau saluran pencernaan manusia dan hewan yang sehat. Jenis E. coli yang berada di saluran cerna umumnya tidak berbahaya, bahkan berperan dalam membantu proses pencernaan makanan.
Namun, dalam kondisi tertentu, beberapa jenis E. coli dapat memicu infeksi di dalam tubuh. Strain penyebab infeksi ini mampu menempel pada sel-sel tubuh dan menghasilkan racun yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan.
Infeksi E. coli adalah berbagai penyakit yang muncul akibat paparan jenis bakteri E. coli tertentu. Beberapa strain E. coli yang berbahaya dapat menyebabkan diare berair, nyeri perut, dan gangguan pencernaan lainnya (gastroenteritis) ketika bakteri ini masuk ke dalam tubuh secara tidak sengaja, misalnya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Tahukah kamu bahwa manusia hanya memiliki 30 triliun sel di dalam tubuh, sedangkan rata-rata jumlah mikroorganisme dalam usus bisa mencapai 40 triliun. Artinya, manusia memiliki lebih banyak mikroorganisme yang beberapa di antaranya berperan penting di dalam tubuh.
Tubuh manusia tidak mampu mencerna semua zat yang masuk dari makanan, di sinilah peran mikroba usus (seperti E. coli) menjadi penting. Mikroorganisme ini membantu memecah zat-zat tertentu sehingga tubuh bisa memanfaatkan nutrisinya.
Tidak sampai disitu, fungsi bakteri E. coli juga membantu menghasilkan vitamin, seperti vitamin K dan B12, yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan.
Selain itu, mikroba usus mengisi ruang di dalam usus. Hal ini penting karena usus merupakan lingkungan yang hangat dan lembap, sehingga mudah menjadi tempat tumbuhnya kuman penyebab penyakit. Dengan “menempati” ruang tersebut, mikroba baik membantu mencegah mikroorganisme berbahaya berkembang.
Di antara mikroba usus, E. coli memang jumlahnya sedikit, tetapi berperan penting. Bakteri ini mampu hidup dengan adanya oksigen dan membantu mengurangi kadar oksigen di usus, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi mikroorganisme lain.
Baca juga: 5 Bakteri Baik untuk Tubuh, Tidak Semua Bakteri itu Jahat!
Seseorang bisa mengalami sakit akibat paparan E. coli patogen dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, tergantung beberapa faktor, salah satunya kondisi sistem imun. Orang dengan imun tubuh yang baik cenderung mampu melawan bakteri sebelum gejala muncul, sedangkan dengan sistem imun lemah lebih rentan.
Adapun beberapa penyakit yang paling sering disebabkan oleh infeksi E. coli adalah sebagai berikut:
Salah satu bahaya infeksi E. coli adalah bisa menyebabkan diare, terutama diare berair. Kondisi ini terjadi ketika bakteri menghasilkan racun yang mengganggu penyerapan cairan di usus sehingga frekuensi buang air besar meningkat. Diare sering kali disebabkan oleh strain bakteri E. coli jenis Shiga Toxin (STEC).
Enteroaggregative E. coli kerap dikaitkan dengan diare akut para pelancong atau yang disebut traveler’s diarrhea. Gejala yang muncul karena bakteri EAEC ini biasanya berupa diare cair selama kurang lebih 14 hari, demam ringan dengan sedikit atau tanpa muntah.
Beberapa jenis E. coli dapat menimbulkan disentri, yaitu diare yang disertai darah dan lendir. Kondisi ini terjadi akibat peradangan pada dinding usus yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Dalam kondisi normal, bakteri E. coli yang berada di usus berfungsi tanpa menimbulkan gangguan. Namun, saat tubuh kemasukan E. coli patogen melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, bakteri tersebut dapat berkembang pesat dan mengacaukan keseimbangan mikroorganisme usus.
Kondisi ini memicu iritasi serta peradangan pada dinding usus, yang kemudian menimbulkan berbagai masalah pada sistem pencernaan.
Penelitian dalam Pathogens (2025) menunjukkan bahwa salah satu strain bakteri E. coli, uropathogenic E. coli (UPEC), menjadi penyebab utama infeksi saluran kemih pada manusia, serta berhubungan dengan kondisi lain, seperti batu ginjal.
Baca juga: Kuman Bisa Terdapat di Mana Saja? Ini Area Paling Rawan!
Penyebaran bakteri E. coli paling sering terjadi melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Kontaminasi bakteri tentu saja tidak disadari sehingga orang yang mengonsumsinya mungkin tiba-tiba merasakan gejala infeksi bakteri E. coli, seperti diare. Lantas, bagaimana cara melindungi makanan dari kontaminasi bakteri?
Makanan bisa dilindungi dari bakteri E. coli patogen dengan dua cara utama. Pertama, mencegah bakteri masuk ke makanan sejak awal, misalnya dengan menjaga kebersihan dan sanitasi selama proses produksi.
Kedua, jika bakteri sudah terlanjur ada, makanan perlu diproses sedemikian rupa agar bakteri tersebut mati atau tidak lagi aktif.
Sebagai penutup, meski tidak semua bakteri E. coli berbahaya, risiko infeksi tetap perlu diwaspadai, terutama yang berasal dari makanan, minuman, atau tangan yang terkontaminasi.
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk mencegah masuknya bakteri penyebab penyakit ke dalam tubuh. Oleh karena itu, penting untuk rutin membersihkan tangan dengan antiseptik, terutama sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah.
Sebagai pilihan praktis untuk kontaminasi bakteri yang sering menempel di tangan, kamu bisa menggunakan Antis J-Tea, antiseptik tepercaya dengan formulasi double protection dan food grade dari Enesis Group yang membantu melindungi tangan dari kuman dan bakteri penyebab penyakit.
Jangan biarkan kuman tak terlihat mengganggu kesehatan, lindungi diri dan orang terdekat dengan selalu menjaga kebersihan tangan menggunakan Antis J-Tea!
Baca juga: Jenis Bakteri yang Sering Menempel di Tangan