Ownership menjadi salah satu sikap yang penting dalam mengasah skill kepemimpinan, terutama untuk menanamkan rasa tanggung jawab, konsep ini dikenal sebagai ownership leadership.
Pendekatan ini menempatkan setiap individu agar lebih proaktif terhadap peran, keputusan, dan hasil yang menjadi tanggung jawabnya.
Arti ownership dalam konteks leadership adalah sikap yang mendorong seseorang untuk merasa memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya.
Menurut Kerry Keggins, ownership leadership tidak hanya berfokus pada hasil, melainkan juga membangun budaya akuntabilitas, kepercayaan, dan pertumbuhan.
Pendekatan ini penting untuk membangun budaya kerja yang mendorong setiap individu berani bertanggung jawab, mengambil inisiatif, dan berkontribusi secara aktif terhadap pencapaian tujuan.
Dengan begitu, anggota tim tidak hanya menunggu arahan, tetapi juga terdorong untuk mengambil peran dan bertanggung jawab atas setiap keputusan di dalam pekerjaannya.
Baca juga: Ciri-Ciri Lingkungan Kerja yang Baik dan Faktor yang Memengaruhinya
Prinsip ownership leadership bukan sekadar soal mengambil tanggung jawab, tetapi juga tentang cara menyikapi proses dan hasil kerja, baik dalam tim maupun secara individu.
Prinsip-prinsip tersebut mencakup:
Ownership leadership dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi, baik ketika hasilnya sesuai harapan maupun sebaliknya.
Masalah adalah sesuatu yang normal, tetapi cara meresponnya menunjukkan seberapa kuat rasa ownership tertanam dalam diri.
Alih-alih menghabiskan waktu untuk menyalahkan, fokus diarahkan pada evaluasi dan pencarian solusi.
Ownership mindset berarti peka terhadap apa yang perlu dikerjakan, dan berani mengambil tindakan tanpa selalu menunggu instruksi.
Inisiatif bisa dari hal sederhana, seperti menawarkan bantuan, mengusulkan ide, atau mengambil langkah awal ketika melihat potensi masalah.
Prinsip ownership tidak hanya tentang menyelesaikan tugas pribadi, tetapi juga memahami bagaimana pekerjaan tersebut berkontribusi terhadap tujuan bersama.
Setiap anggota tim perlu melihat target sebagai tanggung jawab yang perlu didukung, bukan sekadar urusan individu tertentu.
Akuntabilitas berarti bersedia memberikan penjelasan atas pekerjaan, keputusan, dan hasil yang menjadi tanggung jawabnya.
Misalnya, dengan memenuhi komitmen, memberikan pembaruan pekerjaan, serta menyampaikan kendala sebelum masalah menjadi semakin besar.
Rasa ownership berfokus menumbuhkan kemauan untuk menerima evaluasi dan melihat kekurangannya secara objektif.
Evaluasi dan feedback ditujukan untuk menemukan cara kerja yang lebih tepat, sehingga kesalahan serupa bisa dihindari.
Baca juga: Inilah Hak dan Kewajiban Karyawan, Jangan Sampai Keliru!
Ketika prinsip ownership leadership diterapkan secara tepat dan konsisten, pengaruhnya dapat memberikan manfaat dalam berbagai aspek pekerjaan, di antaranya:
Ownership leadership juga berarti sikap yang melihat pekerjaan sebagai tanggung jawab yang perlu dijalankan, alih-alih menjadi sekadar tugas yang menunggu instruksi.
Ketika rasa memiliki tumbuh, anggota tim lebih terdorong untuk mencari peluang, mengantisipasi masalah, dan terbiasa mencari cara untuk memberikan kontribusi.
Ownership juga membuat anggota tim lebih berani mengambil keputusan dalam lingkup tanggung jawab yang dimilikinya.
Selama keputusan tersebut masih sesuai dengan tujuan dan kewenangan yang diberikan, mereka tidak perlu menunggu arahan untuk mengambil keputusan.
Ketika ownership menjadi bagian dari budaya kerja, setiap anggota memahami bahwa tindakan dan hasil pekerjaannya memiliki konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan.
Akuntabilitas ini membuat pembagian tanggung jawab menjadi lebih jelas, sehingga efektif mengurangi kecenderungan melempar kesalahan kepada orang lain.
Rasa percaya akan lebih mudah tumbuh ketika setiap anggota lebih terbuka dan menunjukkan konsistensi dalam menjalankan peran serta tanggung jawabnya.
Dengan kepercayaan, setiap anggota tim akan semakin terdorong untuk berkomitmen dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Sikap ownership dapat membentuk standar kerja di mana setiap orang terbiasa mengambil tanggung jawab tanpa harus terus-menerus diingatkan.
Baca juga: Bagaimana Cara Membangun Kerja Sama Tim yang Solid?
Ownership leadership bisa tercermin melalui beberapa cara penerapan berikut ini:
Setiap anggota tim perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawab, dan hasil seperti apa yang diharapkan.
Hal tersebut bisa terbentuk ketika ada kejelasan target, batas kewenangan, serta standar pekerjaan agar tidak ada ruang untuk salah persepsi.
Berikan anggota tim kesempatan untuk berinisiatif dalam area yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Kesempatan seperti ini akan sangat membantu melatih kemampuan menilai, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
Ketika menemukan kendala, jangan dibiasakan untuk tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga memikirkan solusi penyelesaiannya.
Cara ini mendorong tim untuk memahami akar persoalan, sekaligus mempertimbangkan kemungkinan dari setiap pilihan yang tersedia.
Ketika kesalahan terjadi, hal tersebut harus dievaluasi secara objektif untuk menemukan penyebab dan solusinya.
Dengan begitu, pengalaman yang kurang berhasil berubah menjadi pembelajaran untuk mencegah masalah serupa terulang.
Follow-up bukan berarti mendikte setiap langkah, melainkan memastikan setiap komitmen tetap berada di jalurnya.
Misalnya melalui pengecekan secara berkala mengenai progres, hambatan, serta dukungan yang mungkin dibutuhkan anggota tim.
Ownership akan sulit menjadi budaya jika pemimpin enggan mengakui kesalahan, melempar tanggung jawab, atau tidak menepati komitmen.
Karena itu, seorang pemimpin perlu menunjukkan secara langsung bagaimana sikap yang harus ditanamkan ke dalam diri.
Cara seseorang menyikapi suatu persoalan sering kali menunjukkan seberapa kuat rasa ownership yang dimilikinya.
Sikap tersebut bisa ditemukan dalam berbagai situasi yang muncul di tempat kerja, misalnya:
Sikap ownership akan terlihat dari kesediaan pemimpin dan tim untuk mengakui hasil tanpa sibuk mencari pihak yang harus disalahkan.
Tim akan memilih untuk meninjau kembali target, mencari penyebab, dan menandai hal-hal yang perlu diperbaiki.
Saat menemukan masalah, anggota tim tidak hanya melaporkan kendala dan terus bergantung pada instruksi.
Akan tetapi, mereka berinisiatif mencari penyebab masalah, menyiapkan opsi solusi, kemudian menyampaikannya sebagai bahan pertimbangan.
Ownership dapat diterapkan dengan memberikan ruang kepada anggota tim untuk menyelesaikan tanggung jawabnya dengan pendekatan kerja yang sesuai.
Misalnya, anggota tim diberi tanggung jawab mengelola bagian tertentu dari proyek, seperti dipercaya menentukan timeline yang realistis.
Baca juga: Apakah Magang Termasuk Pengalaman Kerja? Ini Penjelasannya
Memiliki sikap ownership dalam leadership bukan berarti tentang mengambil alih seluruh pekerjaan atau menyelesaikanya seorang diri.
Namun, seorang pemimpin dituntut agar mampu memahami batas tanggung jawabnya, mendelegasikan tugas, dan memberikan kepercayaan kepada anggota tim.
Jadi, ownership tidak membuat seseorang bekerja sendirian, tetapi mendorong setiap anggota agar mengambil peran dan bertanggung jawab terhadap kontribusinya masing-masing.
Budaya kerja ini juga diterapkan melalui ACTIVE culture di Enesis Group, mencakup 6 pilar, yaitu Agility, Creative & Innovative, Teamwork, Integrity, Visionary, dan Excellence.
Dengan memberikan kesempatan untuk berkembang dan berkolaborasi, Enesis berorientasi untuk membangun budaya kerja yang positif bagi setiap individu.
Memilih tempat untuk berkarier juga berarti memilih lingkungan yang dapat mendukung proses belajar dan perkembangan diri.
Enesis Group membuka ruang bagi individu untuk mengembangkan kemampuan, memperluas pengalaman, dan mengambil peran dalam perjalanan kariernya.
Lihat berbagai peluang karier dan temukan kesempatan untuk bergabung bersama Enesis Group!