Pernah merasa tidak semangat ke kantor hanya karena ada satu orang yang bikin suasana kerja jadi tidak nyaman? Lingkungan kerja yang toxic dapat menimbulkan berbagai efek seperti kehilangan fokus, memicu burn out, bahkan membuat karyawan memilih untuk resign dari tempat kerja karena merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada.
Jika merasa teman kerjamu toxic, jangan buru-buru resign, ya! Daripada mencari pekerjaan baru dan harus memulai semua lagi dari awal, yuk, coba terapkan beberapa cara menghadapi teman kerja toxic berikut ini!
Terdapat berbagai faktor penyebab penurunan produktivitas dan kinerja karyawan. Sebuah studi yang diterbitkan oleh International Journal of Environmental Research and Public Health menjelaskan bahwa lingkungan kerja toxic merupakan salah satu di antaranya.
Tidak hanya berdampak pada produktivitas, lingkungan kerja yang toxic bahkan berpotensi menyebabkan karyawan mengundurkan diri. Di Inggris, survei terhadap lebih dari 2.000 karyawan menunjukkan bahwa 61% pekerja pernah resign karena permasalahan ini.
Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja, Yuk Catat!
Kurangnya kesadaran akan teman kerja toxic justru bisa membuat kita menyalahkan diri sendiri, lho! Tentu sangat tidak nyaman, bukan? Oleh karena itu, pahamilah ciri-ciri rekan toxic di lingkungan kerja berikut:
Di dunia profesional, sebuah proyek biasanya harus dikerjakan secara berkelompok agar sukses. Namun, teman kerja toxic sering kali tidak mau menyelesaikan tugas yang diberikan dan hanya memanfaatkan koleganya.
Ketika terjadi kesalahan, tipe rekan kerja toxic cenderung menyelamatkan diri sendiri dengan menyalahkan orang lain seolah-olah dirinya tidak bersalah. Lebih parahnya lagi, mereka terkadang justru sibuk menyalahkan orang lain daripada mencari solusi.
Mengeluh adalah hal yang wajar, terutama jika beban kerja sangat banyak. Namun, terlalu sering mengeluh juga tidak baik karena dapat menciptakan suasana kerja yang negatif. Daripada terus-menerus mengeluh, lebih baik fokuslah untuk mencari solusi atas sebuah permasalahan.
Contoh teman kerja toxic lain adalah mereka yang gemar merundung orang lain. Di lingkungan apa pun, perilaku ini tidak bisa dibenarkan karena dampak buruk yang ditimbulkan terhadap korban bisa sangat serius.
Bullying tentu juga akan mengganggu produktivitas karyawan lain dan membuat lingkungan kerja menjadi tidak sehat. Akibatnya, pekerjaan mudah pun akan terasa sangat berat karena tekanan mental maupun fisik yang dialami.
Jika rekan kerjamu suka bergosip, kamu perlu waspada! Bisa saja, di lain waktu, kamu yang menjadi bahan gosip. Padahal, masalah personal seharusnya tidak dibawa ke lingkungan kerja.
Bergosip merupakan perilaku toxic karena bisa menimbulkan konflik dan ketidakpercayaan antar karyawan. Selain itu, informasi yang disebarkan juga belum tentu benar sehingga bisa berujung pada fitnah.
Baca Juga: Tipe Orang yang Disenangi dalam Dunia Kerja, Apakah Itu Kamu?
Di dunia kerja, pemberian kritik sebenarnya penting jika sifatnya membangun. Namun, jika kritik tersebut menjatuhkan atau bahkan merendahkan, besar kemungkinan bahwa orang yang mengkritik merupakan teman kerja toxic.
Keefektifan dalam cara menghadapi rekan kerja toxic tentu berbeda-beda antara satu individu dengan individu lain. Namun, tidak ada salahnya kamu mencoba menyelesaikan masalah ini dengan beberapa cara berikut:
Ketika terbawa emosi, sering kali kita terlalu fokus pada kebencian dan menyalahkan teman kerja toxic tersebut. Padahal, sebaiknya kamu lebih fokus pada perilaku toxic apa yang ingin diubah.
Sering kali, seseorang melakukan perbuatan toxic tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Jika merasa rekan kerjamu seperti itu, tunjukkan bahwa kamu merasa keberatan atas perilakunya. Tentunya, proses menegur harus dilakukan dengan sopan, ya!
Kemampuan menyampaikan pendapat dengan baik juga berkaitan erat dengan komunikasi yang efektif di tempat kerja. Dengan komunikasi yang tepat, pesan yang ingin kamu sampaikan bisa diterima tanpa memperkeruh suasana.
Merubah perilaku seseorang tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Terkadang, kejadian yang sama bisa terulang tanpa disadari. Jika perilaku masih diulangi meskipun sudah ditegur, kamu bisa mengingatkan orang tersebut kembali untuk menghentikan perilaku yang kurang baik.
Di sebuah perusahaan, terdapat berbagai pihak yang dapat dihubungi ketika masalah ini terjadi, seperti departemen SDM, HR, atau atasan. Dengan menginformasikan apa yang terjadi, pihak ketiga dapat melakukan tindakan lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Baca Juga: 7 Ciri Lingkungan Tempat Kerja Toxic & Cara Menghadapinya!
Meskipun sulit, kamu masih bisa meminimalkan interaksi dengan teman kerja toxic, lho! Lakukan interaksi hanya jika diperlukan untuk urusan pekerjaan. Misal, ketika mereka sedang bergosip, kamu dapat menghindar dan berbincang dengan rekan kerja yang lebih positif.
Jika seluruh cara sudah dicoba tetapi situasi belum juga membaik, ada satu pendekatan lagi yang bisa kamu terapkan untuk menghadapi orang toxic di tempat kerja, yaitu mindset stoik. Dengan filosofi ini, kamu dapat memprioritaskan perhatian pada hal-hal yang bisa dikendalikan, bukan pada perilaku orang lain yang di luar kendalimu.
Alih-alih mempersulit diri sendiri untuk merubah perilaku rekan kerja, kamu bisa menerima kondisi tersebut dan melakukan apa yang bisa dikendalikan sehingga dampak yang timbul menjadi lebih positif.
Misalnya, ketika rekan kerja marah karena kesalahan pekerjaan, menenangkan pikiran dan merefleksikan diri agar bisa berkembang lebih baik adalah solusi yang lebih bijaksana dibandingkan dengan tenggelam dalam emosi negatif.
Baca Juga: Bagaimana Cara Membangun Kerja Sama Tim yang Solid?
Jika kamu merasa pindah tempat kerja adalah keputusan terbaik, hal tersebut tentu tidak salah. Namun, akan lebih baik jika kamu terlebih dahulu mempertimbangkan beberapa alasan pindah kerja yang tepat agar keputusan yang diambil benar-benar matang dan tidak terburu-buru.
Jika sudah benar-benar yakin ingin berpindah, pastikan kamu mencari perusahaan yang mengedepankan kenyamanan lingkungan kerja yang baik agar permasalahan yang sama tidak berulang.
Salah satu perusahaan yang menekankan kondisi lingkungan kerja yang sehat adalah Enesis Group. Komitmen ini dibuktikan dengan prestasi membanggakan Enesis Group dalam meraih tiga penghargaan sekaligus dari HR Asia Award 2025, yaitu Best Companies to Work for in Asia, HR Asia Sustainable Workplace, dan HR Asia Tech Empowerment.
Jika bekerja di Enesis Group, kamu akan mendapatkan teman kerja anti-toxic dan atasan yang selalu asik. Tak hanya itu, proyek yang diberikan untuk mengelola berbagai brand besar selalu menantang sehingga karier pun melesat dengan cepat.
Yuk, raih pekerjaan dengan lingkungan kerja anti-toxic dengan bergabung bersama kami. Karier lebih healthy dan happy bersama Enesis Group!
Baca Juga: Ciri-Ciri Lingkungan Kerja yang Baik dan Faktor yang Memengaruhinya