gerd saat puasa
Maret 6, 2026 Artikel

GERD Kambuh Saat Puasa? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Puasa seharusnya jadi momen tubuh “istirahat” dari pola makan yang berantakan. Tapi buat kamu yang punya GERD (gastroesophageal reflux disease), Ramadan justru bisa terasa menantang.

GERD saat puasa sering terjadi karena lambung yang terlalu lama kosong lalu tiba-tiba diisi makanan dalam jumlah banyak dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memicu refluks.

Lalu, apakah penderita GERD tidak boleh puasa? Tenang, bukan berarti kamu harus menyerah. Dengan strategi yang tepat, puasa tetap bisa dijalani dengan lebih nyaman tanpa membuat gejala kambuh. Yuk, kita bahas satu per satu supaya ibadah tetap lancar dan lambung tetap aman.

Kenapa GERD Saat Puasa Sering Kambuh?

GERD (gastroesophageal reflux disease) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya sfingter esofagus (otot pembatas antara kerongkongan dan lambung). Kondisi ini dapat menimbulkan sensasi perih dan panas di ulu hati (heartburn) serta rasa mengganjal di tenggorokan.

Penyebab umum GERD adalah pola makan yang tidak sehat, seperti sering telat makan yang menyebabkan perut kosong dan asam lambung naik. Itulah sebabnya, GERD kerap kambuh selama berpuasa.

Saat puasa, kamu tidak makan atau minum selama beberapa jam. Hal ini otomatis membuat perut menjadi kosong, bukan? Inilah yang memberi kesempatan asam lambung untuk naik..

Sebagai informasi, salah satu fungsi makanan selain memberikan nutrisi adalah menetralisir tingkat keasaman (pH) dalam perut karena produksi asam lambung. Jika perut kosong, maka asam lambung bisa semakin naik.

Selain dipicu oleh perut yang kosong, penelitian dalam Ghidza Media Journal (2024) menunjukkan bahwa GERD juga dipengaruhi oleh pola tidur. Seperti yang kita tahu, sahur dan aktivitas ibadah selama bulan puasa dapat menyebabkan seseorang kurang tidur sehingga memicu kambuhnya GERD.

Namun, yang membuat GERD sering kambuh saat puasa bukan puasa itu sendiri, melainkan kebiasaan penderitanya. Misalnya, berbuka dengan makanan porsi besar sekaligus atau makanan yang bisa memicu asam lambung, seperti makanan pedas dan berminyak, serta setelahnya langsung berbaring atau tidur. Pasalnya, puasa yang dilakukan dengan tepat digadang-gadang bisa memberikan dampak baik bagi kesehatan pencernaan.

Baca juga: 6 Tips Tetap Bugar Saat Puasa, Simpel dan Ampuh!

Mitos dan Fakta Mengenai GERD Saat Puasa

Ada yang bilang puasa bisa bikin kondisi makin parah, tapi ada juga yang merasa justru gejalanya lebih terkontrol. Nah, di tengah banyaknya pendapat yang beredar, nggak sedikit juga muncul mitos yang bikin bingung.

Padahal, secara medis, respons tubuh terhadap puasa bisa berbeda-beda pada setiap orang dengan GERD. Ini dia beberapa mitos mengenai puasa pada penderita GERD:

1. Penderita Asam Lambung Tidak Boleh Berpuasa

Meski sebelumnya kita sudah membahas bahwa puasa berpotensi menyebabkan GERD kambuh. Namun, di sisi lain, puasa juga bisa memberi manfaat tersendiri bagi penderita asam lambung, lho. Anggapan mengenai penderita asam lambung tidak boleh berpuasa tidak sepenuhnya benar alias mitos.

Dalam beberapa kasus, misalnya GERD yang disebabkan oleh fungsi lambung dan usus yang terganggu, berpuasa dapat membantu mengontrol jam makan, membatasi jenis makanan yang dikonsumsi, serta menghindari rokok dan alkohol. Dengan begitu, gejala bisa membaik.

Bahkan, penelitian dalam Journal of Clinical Gastroenterology (2023) menunjukkan bahwa puasa bisa membantu mengurangi gejala regurgitasi dan heartburn. Namun jika ragu, sebaiknya kamu berkonsultasi dengan dokter mengenai pola makan yang sesuai saat puasa guna mencegah kambuhnya asam lambung. 

2. Makan dalam Porsi Besar saat Berbuka akan Membuat Lambung Nyaman

Anggapan bahwa makan dalam porsi besar saat berbuka bisa membuat lambung nyaman adalah mitos. Faktanya justru sebaliknya, pola “balas dendam” ini sebenarnya kurang ramah untuk lambung, terutama bagi kamu yang punya riwayat GERD.

Pada sebagian penderita penyakit asam lambung, gas di saluran cerna juga lebih sulit dikeluarkan. Akibatnya, timbul keluhan kembung, penuh, dan tidak nyaman setelah makan terlalu banyak saat berbuka. Karena itu, lebih disarankan untuk berbuka dengan porsi secukupnya, tidak langsung berlebihan hingga terlalu kenyang.

dr. Shabrina Ghassani Roza (dokter Enesis Group) menyampaikan, “Selain mengatur porsi makanan pada saat berbuka, bagi penderita GERD juga sebaiknya menghindari makanan yang berlemak tinggi, seperti goreng-gorengan, fast food, dan lain-lain. Dikarenakan makanan yang berlemak tinggi ini dapat memperlambat proses pengosongan lambung.”

3. Minum Susu Saat Berbuka dapat Menyebabkan Asam Lambung Naik

Secara umum, susu boleh saja dikonsumsi asalkan tidak dalam kondisi perut kosong. Minum susu saat perut sudah terisi makanan dapat membantu mengurangi risiko iritasi lambung. Jika diminum saat perut kosong, kandungan protein dan lemak dalam susu bisa merangsang produksi asam lambung pada beberapa orang yang sensitif.

Namun, sebenarnya efek minum susu terhadap penderita GERD tidak selalu sama. So, agar lebih aman, kamu bisa mengisi perut terlebih dahulu dengan kudapan sebelum mengonsumsinya, atau minum setelah makan utama.

Baca juga: 5 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Pencernaan

Pola Makan yang Ideal untuk Penderita GERD Saat Puasa

Bagi penderita GERD, puasa sebenarnya tetap bisa dijalani dengan nyaman asalkan pola makan dan gaya hidupnya diatur dengan tepat. Kunci utamanya adalah menjaga lambung tetap stabil, tidak terlalu kosong terlalu lama, dan tidak “kaget” karena asupan berlebihan sekaligus. Berikut adalah pola makan yang ideal untuk penderita GERD saat puasa:

  • Tidak berbaring setelah makan: Setelah sahur atau berbuka, sebaiknya kamu tidak langsung berbaring atau tidur lagi. Setidaknya, tunggu hingga 1 jam sebelum berbaring agar asam lambung tidak naik.
  • Tidak menunda buka puasa: Menunda berbuka artinya membuat perut tetap kosong dalam waktu yang lebih lama sehingga bisa menyebabkan asam lambung naik.
  • Makan dengan porsi kecil tapi sering: Alih-alih langsung berbuka dalam porsi besar, sebaiknya makan dengan porsi kecil tapi sering. Pasalnya, langsung makan dalam porsi besar saat berbuka dapat menyebabkan lambung “kaget” dan timbul rasa tidak nyaman di perut.
  • Menghindari minuman asam dan berkafein: Jenis minuman ini (seperti kopi dan teh) diketahui dapat meningkatkan asam lambung. Sebaiknya dihindari saat kondisi perut kosong.
  • Tidak melewatkan sahur: Jika sahur dilewatkan, jeda tanpa makanan menjadi semakin panjang sehingga produksi asam lambung tetap berlangsung tanpa ada makanan yang dicerna. Kondisi ini bisa memicu rasa perih, mual, atau panas di dada.
  • Tidur yang cukup: Pola tidur yang berantakan juga dapat mengganggu ritme kerja sistem pencernaan sehingga memicu GERD.

GERD Bisa Memicu Gejala Panas Dalam?

Kalau kamu punya GERD, penting untuk menyadari bahwa dampaknya bukan cuma soal perut terasa perih atau dada panas. Dalam beberapa kasus, asam lambung yang naik sampai ke kerongkongan bahkan bisa mencapai area laring dan faring. Kondisi ini bisa memicu gejala panas dalam, seperti radang tenggorokan.

Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa refluks asam lambung yang terjadi berulang kali dapat memicu peradangan pada mukosa faring dan laring. Kondisi ini kemudian menimbulkan gejala seperti tenggorokan terasa perih, suara serak, batuk kronis, hingga sensasi mengganjal di tenggorokan.

Hal ini didukung oleh penelitian dalam World Journal of Gastroenterology (2024) yang menyebutkan bahwa refluks asam lambung dapat naik sampai area laryngopharynx dan menyebabkan inflamasi jaringan di atas esofagus (tenggorokan).

Artinya, menjaga lambung tetap stabil saat puasa bukan cuma demi kenyamanan perut, tapi juga untuk melindungi tenggorokan dari iritasi berulang akibat asam lambung.

Selain mengatur pola makan saat sahur dan berbuka, kamu juga bisa menjaga kenyamanan tenggorokan dengan pilihan yang tepat. Adem Sari Sachet mengandung kombinasi vitamin C, jeruk nipis, lemon, herbal, dan sensasi sparkling yang menyegarkan untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman di tenggorokan.

Jadi, supaya puasa tetap nyaman tanpa drama GERD kambuh sampai bikin tenggorokan meradang, jangan lupa untuk selalu menyiapkan Adem Sari Sachet selama Ramadan!

Baca juga: Inspirasi Menu Sahur dan Buka Puasa 30 Hari yang Variatif

Related article