Perubahan pola makan hampir selalu diikuti dengan perubahan pola tidur saat puasa. Kalau biasanya kamu tidur setelah makan malam dan bangun pagi untuk beraktivitas, selama Ramadan ritmenya jadi berbeda.
Waktu sahur di dini hari, salat tarawih di malam hari, belum lagi menyiapkan menu buka puasa atau aktivitas sore seperti ngabuburit, kadang membuat jam istirahat ikut bergeser tanpa disadari. Akibatnya, durasi tidur pun menjadi lebih pendek
Meski tampak sepele, perubahan pola tidur ini bisa memengaruhi konsentrasi, mood, hingga daya tahan tubuh kalau tidak dikelola dengan baik. Karena itu, penting untuk memahami bagaimana pola tidur saat puasa dan bagaimana cara mengaturnya supaya tubuh tetap fit sepanjang hari. Yuk, simak informasi selengkapnya di bawah ini.
Ada beberapa faktor utama yang membuat pola tidur saat puasa terasa berbeda dari hari-hari biasa. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sports Sciences (2021) menunjukkan bahwa durasi tidur selama Ramadan dapat menurun sekitar satu jam dibandingkan hari biasa.
Secara umum, faktor-faktor yang dapat menyebabkan perubahan pola tidur saat puasa adalah sebagai berikut:
Saat tidak puasa, tubuh terbiasa menerima asupan di pagi, siang, dan malam hari. Selama Ramadan, waktu makan bergeser hanya ke malam hingga dini hari. Perubahan ini memengaruhi ritme sirkadian (jam biologis tubuh) yang mengatur kapan kita merasa mengantuk dan terjaga.
Salat tarawih, tadarus, hingga i’tikaf membuat waktu istirahat malam berkurang. Banyak orang baru tidur lebih larut dari biasanya karena ingin memaksimalkan ibadah atau berkumpul bersama keluarga setelah berbuka.
Sahur mengharuskan kita bangun lebih awal, bahkan ketika fase tidur belum selesai. Ini membuat jam tidur saat puasa terpotong dan sering kali tidak tergantikan sepenuhnya di siang hari.
Baca juga: 7 Menu Takjil Kekinian yang Bikin Berbuka Makin Nikmat
Perubahan pola tidur bukan sekadar soal mengantuk. Jika berlangsung terus-menerus tanpa pengaturan yang baik, ada beberapa dampak yang bisa muncul:
Kurang tidur dapat menurunkan fungsi kognitif seperti fokus, daya ingat, dan kemampuan mengambil keputusan. Penelitian yang diterbitkan di BMC Public Health menunjukkan adanya hubungan antara perubahan pola tidur selama Ramadan dengan penurunan performa dan kesejahteraan harian.
Gangguan tidur dapat memengaruhi regulasi emosi. Studi dalam jurnal Healthcare (2025) membahas bahwa perubahan pola tidur dan ritme biologis selama Ramadan dapat berkaitan dengan peningkatan iritabilitas atau suasana hati yang kurang stabil.
Apabila kamu merasa di puncak emosi ketika puasa, apa yang bisa dilakukan? Cobalah menghirup inhaler aromatherapy yang memberikan sensasi menenangkan pikiran seperti Plossa. Penggunaan inhaler seperti Plosaa saat puasa diperbolehkan karena produk ini tidak sampai ke lambung saat dihirup. Dengan begitu, pikiran bisa kembali rileks tanpa perlu minum es.
Kombinasi dari kurang fokus, cepat lelah, dan perubahan suasana hati bisa membuat produktivitas kerja atau belajar ikut menurun. Padahal, banyak orang tetap harus menjalani rutinitas normal selama bulan puasa.
Penelitian dalam BMC Public Health (2025) yang melibatkan 922 mahasiswa saat Ramadan menunjukkan bahwa puasa secara signifikan memengaruhi pola tidur dan tingkat kelelahan, dengan dampak yang cukup kompleks terhadap performa akademik.
Tahukah kamu bahwa puasa juga bisa menjadi pemicu perubahan hormon dalam tubuh yang berpengaruh pada pola tidur, lho. Sebuah penelitian dalam PLOS One (2020) menunjukkan bahwa perubahan hormon ghrelin, leptin, dan melatonin selama Ramadan merupakan respons terhadap ritme makan dan tidur yang berubah.
Baca juga: Inspirasi Menu Sahur dan Buka Puasa 30 Hari yang Variatif
Supaya tubuh tetap fit dan ibadah berjalan optimal, kamu bisa mencoba beberapa tips tidur saat puasa berikut ini:
Dokter Enesis Group, dr. Shabrina Ghassani Roza, menambahkan,”Disarankan untuk memberi jeda sekitar 2-3 jam antara makan malam terakhir dengan waktu tidur. Hal ini penting karena tubuh memerlukan waktu untuk mencerna makanan yang berada di lambung sekaligus mencegah terjadinya GERD.”
Menjaga pola tidur saat puasa memang penting supaya tubuh tetap fit dan ibadah lebih khusyuk. Tapi selain mengatur jam istirahat, kamu juga perlu meminimalkan gangguan dari luar, termasuk gangguan kecil yang sering dianggap sepele, seperti nyamuk.
Selama Ramadan, aktivitas malam hari meningkat. Ada yang tarawih di masjid, tadarus, bahkan i’tikaf hingga menjelang sahur. Belum lagi saat kamu mencoba tidur lebih awal atau mencuri waktu istirahat setelah sahur, gigitan nyamuk bisa membuat tidur jadi tidak nyenyak dan tubuh terasa kurang segar keesokan harinya.
Supaya kualitas istirahat dan ibadah tetap terjaga, kamu bisa melindungi diri dengan menggunakan Soffell sebelum beraktivitas di malam hari, baik di rumah maupun di masjid. Soffell dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dengan efektivitas mencapai 8 jam.
Soffell dapat membantu mencegah nyamuk dengan formula yang lembut serta melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dengan rasa yang tidak disukai oleh nyamuk. Kandungan pelembap di dalamnya bisa menjaga kulit tetap lembut dan tidak lengket.
Jangan lupa selalu sediakan Soffell dari Enesis Group untuk menemani aktivitasmu selama bulan Ramadan, ya!
Baca juga: 7 Pilihan Menu Sahur Sehat agar Tidak Lemas dan Kuat Puasa!