cara membangun hubungan yang sehat
Januari 23, 2026 Artikel

8 Cara Membangun Hubungan yang Sehat, Bukan Menjauhi Konflik!

Semua orang tentu ingin memiliki hubungan yang sehat, namun tidak semua tahu cara mengupayakannya. Faktanya, cara membangun hubungan yang sehat tak selalu tentang liburan bersama atau merayakan momen spesial lainnya. Ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.

Lantas, seperti apa bentuk kedewasaan yang dapat mendukung terbentuknya hubungan yang sehat? Artikel ini akan memaparkan penjelasan lengkap yang bisa membantumu bersikap lebih bijak dalam hubungan. Yuk, simak penjelasannya sampai tuntas!

Cara Membangun Hubungan yang Sehat dengan Orang Lain

Mungkin banyak orang bertanya, “Hubungan yang sehat itu seperti apa?”. Singkatnya, hubungan sehat adalah hubungan yang aman, fungsional, dan saling menghormati. Untuk membangunnya, kamu bisa melakukan sejumlah cara berikut:

1. Memahami Kondisi Orang Lain

Pada hakikatnya, setiap orang memiliki pemikiran, kemauan, dan dinamikanya masing-masing. Selagi pemikiran dan tindakan seseorang tidak menyalahi norma dan tidak merugikan, belajarlah untuk memahaminya. Kamu sendiri pasti ingin dipahami juga, kan?

Jika sebuah hubungan dibangun dengan saling memahami, tidak akan timbul sikap menghakimi sehingga komunikasi akan lebih berkualitas. 

2. Berpikir Sebelum Berkata dan Bersikap

Salah satu ciri orang yang berbudi pekerti baik adalah selalu berhati-hati dalam berkata dan bersikap. Kehati-hatian ini bisa diupayakan dengan selalu berpikir dan menimbang dampak dari sebuah perkataan atau tindakan.

Dengan bersikap dan berucap secara hati-hati, kamu bisa meminimalkan konflik dan menjaga ketenangan batin. Terlebih, kini banyak orang yang tiba-tiba menjadi viral di media dan menuai banyak kecaman karena melakukan suatu tindakan yang ceroboh. Jadi, jangan lakukan suatu tindakan yang membuatmu harus minta maaf di kemudian hari, ya!

3. Menyempatkan Quality Time

Di tengah kesibukan yang seakan tak ada habisnya, quality time menjadi hal yang perlu disempatkan, terlebih dalam hubungan suami istri. Quality time dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana, seperti makan bersama, jalan santai atau duduk bersama di ruang terbuka, dan membaca lalu berdiskusi.

Faktanya, quality time merupakan momen yang tidak selalu mudah didapatkan. Maka, saat kesempatan itu ada, hadirlah sepenuhnya dan hargai kebersamaan itu. Misalnya, dengan hadir tepat waktu saat ada janji bertemu dan fokus menyimak pembicaraan orang lain tanpa diselingi dengan bermain gadget.

Baca juga: 6 Wisata Kulon Progo yang Lagi Hits Untuk Keluarga

4. Membangun Komunikasi Terbuka

Komunikasi memang elemen vital dalam setiap hubungan. Namun, komunikasi bukan sekadar aktivitas berbincang, melainkan proses yang perlu dibangun di atas keterbukaan.

Tanpa keterbukaan, seseorang tidak akan merasa aman untuk mengungkapkan pendapatnya karena takut dihakimi. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini menjadikan hubungan tidak sehat. Untuk menghindarinya, kamu bisa menerapkan teknik-teknik komunikasi terbuka berikut ini:

  • Mendengarkan secara aktif.
  • Menyampaikan perasaan dan pesan secara positif.
  • Tidak merahasiakan informasi penting.
  • Bersedia memberikan bantuan saat diperlukan.

Baca juga: Ketahui Apa itu Deep Talk, Manfaat, dan Cara Melakukannya

5. Menumbuhkan Kepercayaan kepada Orang Lain

Cara kelima ini berhubungan erat dengan komunikasi terbuka. Ya, kepercayaan bisa dikatakan salah satu fondasi dalam komunikasi terbuka. 

Seseorang akan lebih berani menyampaikan pendapat dan informasi penting jika ia percaya bahwa lawan bicaranya tidak akan menghakimi atau menyalahgunakan informasi tersebut. Sebaliknya, tanpa kepercayaan, risiko terjadinya konflik akan lebih tinggi.

Kepercayaan dibutuhkan dalam semua hubungan, mulai dari hubungan romantis, pertemanan, hingga profesional. Untuk menumbuhkan kepercayaan dalam hubungan, kamu perlu menepati komitmen, membuka diri terhadap kritik konstruktif, dan menghindari kebohongan sekecil apapun.

6. Aktif Menunjukkan Dukungan Emosional

Dukungan emosional dapat ditunjukkan dengan hadir, memahami, dan merespon perasaan orang lain secara empatik. Sebagaimana kepercayaan, dukungan emosional dibutuhkan dalam semua jenis hubungan. Bahkan dalam hubungan profesional sekalipun, dukungan emosional membuat relasi lebih dekat, bermakna, dan tidak kaku.

Beberapa contoh dukungan emosional yaitu menanyakan kabar sahabat, memberikan dukungan saat anggota keluarga gagal, menawarkan bantuan saat rekan kerja membutuhkan, serta memvalidasi perasaan pasangan.

7. Menetapkan Personal Boundaries

Personal boundaries adalah batasan pribadi terhadap orang atau lingkungan sekitar. Dengan menerapkan personal boundaries, kamu bisa membangun hubungan yang lebih seimbang. Relasi dan produktivitas tetap terjaga, sementara kelelahan dapat diminimalkan. 

Sebaliknya, hubungan yang tidak mengindahkan personal boundaries merupakan ciri ciri hubungan tidak sehat. Personal boundaries meliputi batasan fisik, emosional, seksual, material, waktu, dan intelektual. Berikut contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari:

  • Batasan fisik: Meminta waktu istirahat pada atasan saat merasa kurang sehat di kantor.
  • Batasan emosional: Membuat jarak dengan orang yang sering mengabaikan perasaan.
  • Batasan seksual: Menolak sentuhan fisik yang membuat tidak nyaman.
  • Batasan waktu: Meminta rekan kerja agar tidak membahas pekerjaan di waktu istirahat.
  • Batasan material: Menolak meminjamkan uang pada orang yang tidak bisa dipercaya.

8. Mengelola Konflik dengan Sehat

Adanya konflik tidak selalu menandakan bahwa suatu hubungan tidak sehat. Namun, konflik yang berulang tanpa penyelesaian bisa dikatakan sebagai ciri-ciri hubungan tidak sehat. 

Umumnya, konflik terjadi akibat kurangnya komunikasi terbuka, perbedaan nilai, ketidakseimbangan peran, atau minimnya quality time. Namun, kualitas dan keberlanjutan hubungan tetap bisa terjaga jika kamu mengelola konflik secara sehat. Berikut ini sejumlah cara yang bisa kamu lakukan:

  • Menghormati perbedaan.
  • Fokus untuk menyelesaikan masalah, bukan menyerang pribadi.
  • Mencari solusi dengan teknik kompromi hingga menemukan titik temu yang dapat disepakati dan menguntungkan kedua pihak. 
  • Belajar memaafkan dan tidak mengungkitnya lagi di kemudian hari.

Itulah beberapa cara membangun hubungan yang sehat sehingga dapat menjadi wadah bertumbuh bagi semua pihak yang terlibat. Di antara beberapa cara di atas, kepercayaan dan komunikasi sering kali mendapatkan perhatian lebih. 

Meskipun demikian, kamu juga harus menyadari bahwa ada satu hal yang tak kalah penting, yaitu kemampuan mengelola emosi diri. Saat pikiran penuh dan emosi tidak stabil, terkadang konflik kecil pun terasa besar. Untuk menghindarinya, coba ambil jeda dan tenangkan diri dengan menghirup Plossa.

Plossa Press & Soothe Aromatics merupakan minyak aromaterapi dari Enesis Group dengan manfaat multifungsi  4 in 1. Kamu bisa menggunakannya untuk pijat, kerok, roll on, sekaligus inhaler. 

Healthy product for healthy family ini mengandung eucalyptus, peppermint, menthol, dan essential oil sehingga memberikan efek aroma yang menenangkan dan melegakan pernapasan.

Plossa hadir dengan varian Panasin, Eucalyptus, Citrus Herbal, dan Blue Mountain. Menariknya, ada Plossa Mini dan Refill dengan kemasan yang praktis, mudah dibawa bepergian, dan bisa diisi ulang, lho.

Plossa adalah must have item saat situasi apapun, terutama saat kamu ingin rileks dan harus berpikir jernih. Yuk, sedia selalu Plossa dalam tas agar kamu bisa menghirupnya setiap saat dan tetap tenang saat situasi genting datang!

Baca juga: Butuh Ide Makanan untuk Traktir Teman Kantor? Ini Rekomendasinya!

Related article