Home > Info Kesehatan
INFO KESEHATAN
Share artikel ini ke :
12 Maret 2018
Mengenal dan Mencegah Penyakit Japanase Enchepalitis (JE)
Penyakit Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak disebabkan oleh virus Japanese ensefalitis termasuk family Flavivirus. Penyakit ini sebenarnya hanya terjadi antara nyamuk, babi, dan burung rawa. Namun, manusia bisa tertular virus ini jika tergigit nyamuk Culex Tritaeniorhynchus yang telah terinfeksi. 
 
Jika manusia sudah terinfeksi, gejala akan muncul setelah masa inkubasi yang berlangsung selama 4-14 hari. Gejala penyakit ini mirip dengan gejala demam berdarah dengue (DBD), seperti demam tinggi, yang diikuti dengan gejala ringan lain seperti menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan juga muntah. 
 
Gejala dapat muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus. JE merupakan masalah kesehatan di Asia, termasuk juga di Indonesia. Jumlah penyakit ini di Indonesia seperti dilansir dari Liputan6.com, pada April 2017 lalu yakni sebanyak 326 kasus dan provinsi terbanyak penderitanya yakni di Provinsi Bali dengan jumlah kasus sebanyak 226. 
 
Nyamuk Culex sebagai vektor penyakit JE biasanya hidup di persawahan dan area peternakan. Jika musim hujan, kejadian penyakit japanese enchepalitis pun cenderung meningkat. Untuk mencegah penyakit japanese enchepalitis dapat dilakukan beberapa hal yaitu : 
 
1. Melakukan imunisasi 
Sebanyak 85% kasus JE yang dilaporkan pada 2016 terjadi pada kelompok umur kurang dari 15 tahun. Hal ini menyebabkan JE dianggap sebagai penyakit pada anak. Padahal, hal tersebut tidak benar karena JE juga bisa menyerang orang dewasa.
 
2. Pengendalian vektor penyakit Japanese Enchepalitis
Intervensi yang penting dalam penanggulangan JE adalah dengan pengendalian vektor atau organisme yang dapat menyebarluaskan penyakit, contohnya dengan jalan eliminasi populasi unggas, vaksinasi pada binatang peternakan, melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M Plus seperti menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air dan rutin mengganti air minum burung atau hewan peliharaan lainnya, dan memanfaatkan kembali barang-barang yang tidak terpakai.
 
Sedangkan plus yang dimaksud yakni menggunakan lotion tolak nyamuk seperti Soffell yang memiliki 2 perlindungan, yang pertama mencegah nyamuk dengan aroma Soffell, dan ayng kedua yakni melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dengan rasa yang tidak disukai nyamuk. Tak hanya itu, untuk menghindari gigitan nyamuk juga bisa dengan tidak menggunakan pakaian berwarna gelap, menanam tanaman pengusir nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, dan lainnya. 
 
Sumber Referensi 
 
Foto :
https://www.cdc.gov/parasites/lymphaticfilariasis/gen_info/vectors.html
 
https://sains.kompas.com/read/2018/03/02/180700623/japanese-encephalitis-penyakit-radang-otak-yang-ditularkan-nyamuk
 
http://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/17/04/09/oo4d7g359-japanese-encephalitis-penyakit-berbahaya-akibat-nyamuk-di-indonesia
 
http://health.liputan6.com/read/2910070/waspadai-demam-pada-anak-akibat-penyakit-japanese-encephalitis
 
Share artikel ini ke :
Copyright © 2011 Enesis Group. All rights reserved.  |  Terms of Use  |  Peta Situs